Cerita ini adalah salah satu pengalaman pertama saya mengunjungi kabupaten yang terletak di pojok bawah Pulau Jawa, Kabupaten Jember saat libur Hari Raya Idul Fitri kedua 3 tahun yang lalu bersama keluarga dan sanak saudara. Penasaran kesana karena banyak yang bilang kalau sekarang Jember makin rame.

Cerita ini berawal dari . . . .

Kamis pagi, Hari Raya kedua, saya dan keluarga besar (badannya yang besar-besar) berangkat dari Surabaya tepatnya jam 07.00. Bermodal 2 mobil (1 si LeGXi dan 1 sedan), saya langsung memacu LeGXi di jalan tol Waru – Porong. Karena kapasitas LeGXi yang diisi penuh 8 orang berbadan tidak biasa, akhirnya maju si LeGXi agak tersendat. Iya, agak pelan.
Perjalanan Porong – Probolinggo sangat-sangat lancar dan berhenti sebentar untuk sarapan. Setelah sampai jalur lingkar luar Probolinggo, barulah terkena macet yang lumayan membuat sakit kepala imbas ada bus yang mogok ditambah dengan perempatan lampu merah. Jalan 1,5 km ditempuh hingga 30 menit.
Masuk Probolinggo arah Lumajang, berhenti terlebih dahulu memberikan nafas si LeGXi untuk berjaga-jaga macet lagi di depan (karena melihat Google Maps merah panjang).
Pom bensin dan Alfamart menjadi tempat ternyaman saat itu. Belum lagi saya yang dari macet tadi menahan kencing karena memang kondisi tidak memungkinkan untuk langsung kencing, toilet menjadi tujuan utama saat berhenti di pom bensin atau Alfamart.
Akhirnya, macet juga di daerah Leces hingga kurang lebih 4 km. Cuaca panas menambah saya semakin tidak sabar. Buka jalur di kanan dan kiri menerobos barisan di depan. Akhirnya jam 12 siang (di pom bensin jam 11) lepas dari cengkraman macet yang mengerikan karena panas tidak karuan, sampai juga di masjid untuk sholat Dhuhur dan melepas lelah. Macetnya disebabkan karena jalur sempit dan perlintasan kereta api. Lanjut hingga Jember, Alhamdulillah tidak ada kendala selain saya yang sering masuk pom bensin karena kebelet buang air kecil. Sebenarnya lepas macet, jarak ke Jember masih sangat jauh, kira-kira 2 jam baru masuk Jember.

PENGINAPAN NYAMAN DI JEMBER

Jc Homestay

Jl. Sunan Drajat No.31, Telengsah, Jember Kidul, Kaliwates, Jember Regency, East Java 68131
  • Kebersihan 90%
  • Kenyamanan 86%
  • Suasana 75%
  • Kemudahan Akses 60%
Setelah masuk Jember, langsung masuk ke penginapan yang sudah dipesan tante saya di daerah jalan nama-nama Sunan. Letaknya masuk gang. Tetapi, di area penginapannya ada parkir mobil yang sangat luas. Kami menginap di JC Homestay Jember. Dapat kamar yang AC tanpa air panas seharga Rp. 200.000 + extra bed Rp. 50.000. JC Homestay Jember ini penginapan nyaman dan bersih yang ada di Jember. Meski letak homestaynya menyelimpit di gang-gang, tetapi suasananya enak untuk istirahat, sepi, tenang, dan mencekam (bercanda). Samping penginapan adalah rumah kosong, tetapi tidak seram. Penginapannya bersih banget padahal kata yang punya, pegawai yang kerja hanya 1 orang karena yang lain sedang pulang kampung. Ada sekitar 3 kamar dengan berbagai macam ukuran. Pokoknya mantap abis gentak gentak joss.

Hari 02.

PANTAI PAPUMA JEMBER DAN WATU ULO

Esok pagi, kami bersiap pukul 7 pagi untuk berangkat ke wisata pantai Papuma yang letaknya sekitar 1 jam dari homestay. Lewat desa-desa dan jalan berlubang (bermodalkan Google Maps) sampai juga di Papuma Jember. Tetapi, karena terlalu mengandalkan Google Maps, kita masuk Pantai Papuma Jember lewat Pantai Watu Ulo, jadi kita bayar 2x, bayar masuk di Pantai Watu Ulo dan Papuma. Total untuk di mobil saya Rp. 250.000 (8 orang dewasa). Karena memang tujuan utama ke Papuma, jadi kita ke pantai Papuma terlebih dahulu. Suasana di Papuma masih agak sepi. Kita pun duduk-duduk di tenda yang disewakan warga sekitar ditambah menyewa alas duduk (sewa tenda Rp. 20.000, sewa karpet duduk Rp. 10.000) karena terik matahari yang menyinari bumi ini sudah mulai menampakkan panasnya. Jalan-jalan di pasir pantai seperti biasa dan orang-orang juga banyak yang berselfie ria termasuk kita.  
Siang dikit rencana geser ke arah gunung batu yang menjadi ikon Papuma, tetapi suasana saat itu menjadi ramai dan parkir penuh akhirnya kami pun kembali ke Watu Ulo untuk makan siang. Jaraknya tidak begitu jauh, hanya bersebelahan, tetapi turun dikit. Sampai di Watu Ulo, hanya tiduran karena memang suasana di destinasi wisata Jember yang satu ini lebih sepi dan tenang, jadi sangat pas untuk menyewa tikar dan berleha-leha di bawah pohon pinggir pantai.
Tidak lama ditawarin menu makanan sama yang menyewakan tikar, nasi rawon dan soto Rp. 1o.000 saja (kalau beli langsung di warungnya Rp. 8.000). Karena memang letak leha-leha kita agak jauh dari warungnya akhirnya titip saja sama yang punya tikar saja untuk dibelikan. Rasanya enak kok, tidak mengecewakan.

Setelah agak sore, kami pun kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak. Beberapa dari kami ada yang langsung pergi mencari oleh-oleh khas Jember. Sisanya di penginapan, ada yang tiduran, ada yang cari pokemon karena lagi rame soal aplikasi permainan Pokemon Go.

Paginya kami langsung packing untuk balik ke Surabaya. Alhamdulillah, perjalanan ke Surabaya tidak macet seperti ketika berangkatnya. Tapi sebelum langsung bablas Surabaya, kami mampir terlebih dahulu untuk makan siang di daerah Pacet.

Sumber Gambar :

  • Situs resmi JC Homestay
  • Pexels

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Taman Botani Sukorambi dan Blogger Jember Sueger #2

Share This