Mencari Kost-Kostan di Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Posted on

Setinggi-tinggi ilmu,

Semurni-murni tauhid,

Sepintar-pintar siasat.

*****

Rumah berpagar kayu dengan cat warna hijau nampak mencolok dibandingkan dengan bangunan-bangunan disekitarnya. Sang Saka Merah Putih berkibar dengan gagahnya di teras rumah yang memang juga digunakan sebagai jalan gang. Jalan Peneleh Gang 7, begitu tulisan yang terpampang di ujung jalan masuk menuju rumah yang konon dulunya digunakan sebagai tempat kost.  Aku pun tak ragu untuk mulai memasukinya dan inilah ceritaku.

Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau bisa disingkat H.O.S Tjokroaminoto. Seorang bapak yang menghuni rumah tersebut di tahun 1907 kala Indonesia dan Belanda itu nampak dekat (coba lihat di peta, kan jauh). Siapakah Pak Tjokro itu?

H.O.S Tjokroaminoto adalah ketua salah satu organisasi pergerakan terbesar di Hindia Belanda (Indonesia kala itu) yang bernama Sarekat Islam. Lahir 16 Agustus 1882 di Desa Bakur, Madiun, Jawa Timur, ternyata beliau terlahir dengan tingkah laku yang bisa dibilang nakal.

Tapi, akhirnya beliau berhasil menuntaskan sekolah rakyat dan kemudian melanjutkan di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), Magelang. Tahun 1902, H.O.S Tjokroaminoto lulus dari OSVIA. Setelah lulus, beliau menjadi juru tulis di Kepatihan Ngawi selama tiga tahun. Di tahun 1903, Pak Tjokro menikahi istrinya yang bernama Soeharsikin. Karena birokrasi untuk berjongkok dan menyembah, Pak Tjokro mengundurkan diri di tahun 1905.

Setelah itu, tahun 1907, tepatnya bulan September, beliau bersama istri berpindah ke Surabaya untuk bekerja di Firma Kooy & Co yang merupakan perusahaan dagang dan bertempat tinggal di sebuah rumah kecil tepatnya di Jl. Peneleh gang 7 no. 29-31. Disinilah beliau tinggal bersama dengan istrinya dan kelima anaknya yaitu Siti Oetari, Oetarjo alias Anwar, Harsono alias Moestafa Kamil, Siti Islamijah, dan Soejoet Ahmad.

Di Surabaya inilah beliau menjadi ketua umum Sarekat Islam yang kemudian menjelma sebagai salah satu pergerakan besar bangsa Indonesia kala itu dan menjadikan rumahnya sebagai kantor pusat Sarekat Islam. Bahkan Surat Kabar Sarekat Islam pertama kali diterbitkan di Surabaya Desember 1912. Sayangnya, surat kabar ini hanya bertahan 11 tahun saja karena pamor Pak Tjokro dan Oetoesan Hindia mulai meredup.

Beliau gemar membaca bersama keluarganya yang mana di ruangan tanpa sekat di sisi kanan rumah tersebut masih nampak beberapa hibahan buku dari Keluarga H.O.S Tjokroaminoto, lebih khususnya dari putera kedua beliau bernama Anwar Tjokroaminoto.

Perlu kalian ketahui kalau Pak Tjokro adalah seorang bapak kost yang sangat disegani. Betapa tidak, yang ngekost di rumah Pak Tjokro bukan orang yang main-main, salah satunya adalah Ir. Soekarno. Ir. Soekarno ngekost di rumah Pak Tjokro karena ayahnya adalah teman dari Pak Tjokro jadi disuruh ngekost di Pak Tjokro dengan biaya bulanan 11 Gulden. Selain itu, kebetulan Ir. Soekarno ini ketika itu bersekolah di HBS (Hogere Burger School) Surabaya yang sekarang mendapat julukan sekolah komplek (SMAN 1, SMAN 2, SMAN 5, dan SMAN 9) dan yang pasti Ir. Soekarno disuruh belajar dari Pak Tjokro. Dan disinilah Ir. Soekarno menikahi anak Pak Tjokro yang bernama Siti Oetari.

Ir. Soekarno’s Corner

Tokoh lain yang juga ngekost adalah Musso, Kartosoewirjo, Alimin, Semaoen, dan Darsono yang terpampang dalam bingkai di ujung belakang sisi kanan rumah dan beberapa diantaranya alasan ngekost dengan tujuan  ingin berguru dari Pak Tjokro yang sepak terjangnya mulai bersinar dalam bidang apapun hingga pada akhirnya mereka berjuang untuk bangsanya dengan pemikiran masing-masing.

Anak Kost Selain Ir. Soekarno

Menoleh ke kanan ada sebuah manekin mengenakan pakaian yang ternyata itu adalah pakaian Ir. Soekarno ketika mondok atau ngekost di rumah Pak Tjokro dan bersekolah di HBS. Sangat berwibawa dan nampak tidak terkesan kuno. Bahkan menurut saya masih cocok untuk digunakan pada zaman sekarang.  Lanjut ke lorong tengah, disinilah letak pakaian Pak Tjokro ketika berbicara di kongres. dipamerkan. Tidak berbeda jauh dengan pakaian Ir. Soekarno hanya beda di atasannya saja.

Bacaan menarik karena ketika tahun 1921, Pak Tjokro ternyata ditangkap atas tuduhan keterlibatan kasus SI afdeling (wilayah B di Jawa Barat dan Garut) ketika tahun 1919. Beliau ditangkap dan dipenjara di Kalisosok. Tahun 1922 beliau bebas, kemudian beliau menikah lagi dengan istri keduanya yaitu Roestina karena istri pertamanya meninggal.

Keasyikan membaca, mata saya melirik sejenak kebelakang dan nampak kasur putih besar yang khas. Ruangan yang digunakan untuk keperluan pribadi Pak Tjokro bersama sang istri, Soeharsikin. Terpampang juga foto makam Pak Tjokro yang wafat tanggal 17 Desember 1934 di Yogyakarta.

Ketika hendak menuju ruang depan, saya teringat ada tangga di belakang yang mengarah ke lantai 2. Saya tanya kepada Mas Januar (penjaga museum H.O.S Tjokroaminoto) ternyata ini (diperkirakan) adalah tempat untuk tidur anak-anak kost beliau. Saya naik keatas dan ternyata udaranya sangatlah panas dan sedikit pengap. Terpapar tikar kayu yang mana di tengah-tengah ada sebuah meja kecil dengan keterangan kamar Soekarno ketika ngekost.

Tidak kuat berlama-lama diatas, saya pun menemui Mas Januar di ruang depan yang menjadi ruang tamu. Ngobrol dengan Mas Januar karena memang kebetulan museum lagi sepi hanya kita berdua.

“Barang-barang disini sebagian besar memang tidak asli karena jarak dari Pak Tjokro keluar dari rumah ini hingga terakhir Ir. Soekarno kembali mengunjungi rumah ini kembali sangatlah jauh, dan ketika itu rumah ini juga sudah ditempati oleh keluarga etnis Tionghoa yang memang kemungkinan telah merubah bentuk dalam rumah juga perabotannya.”

Beberapa pendapat muncul bagaimana bentuk asli rumah Pak Tjokro ketika dijadikan tempat tinggal juga kost seperti sketsa yang ada di ruang depan yang dibuat oleh salah satu surat kabar.

Sketsa Berdasarkan Perkiraan dari Sumber-Sumber yang Ada

Ruang tengah juga disediakan seperti kursi sebagai ruang tamu dan dipajang beberapa tokoh pada masa pergerakan H.O.S Tjokroaminoto. Adanya plakat dari Walikota Surabaya menandakan bahwa bangunan ini resmi merupakan museum sejak tanggal 27 Nopember 2017.

Kalau kalian tertarik untuk mengunjungi museum H.O.S Tjokroaminoto ini silahkan datang di hari Selasa – Minggu pukul 09.00 – 17.00 WIB. Masuknya gratis, tempatnya terawat juga bersih, dan yang pasti kalian bisa bertanya kepada pemandu yang berjaga disana sebanyak mungkin.

Sangat menarik untuk berkunjung ke museum ini karena ternyata dari sinilah muncul beberapa pemikiran yang menjadi jalan sejarah bangsa Indonesia kedepannya. Salah satu yang membekas adalah pemikiran komunis oleh beberapa diantaranya adalah Musso, Semaoen, dan Alimin yang berhasil mencatatkan tinta hitam di sejarah bangsa Indonesia.

Video Lengkapnya

2 thoughts on “Mencari Kost-Kostan di Rumah H.O.S Tjokroaminoto

    1. waduh dikomen blogger kondang, jadi malu mas.
      Monggo kalo ke SUB lagi jalan-jalan aja, tapi kalo mau mengingatkan cerita-cerita indah berdua dengan dia mungkin gak ada mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *