Kontak Saya Paid Review | Content Placement | Digital Promotion.

Ketika Sejarah Bercampur dengan Keindahan Alam

Di artikel sebelumnya, saya menjabarkan bagaimana sebuah kereta bersejarah yaitu kereta uap terus memberikan eksistensinya kepada dunia bahwa ternyata sejarah yang ada tidak bisa hilang begitu saja dengan mudah dan menjadi keberagaman diantara semua yang moderen. Adapula salah satu saksi bisu dimana masih adanya rel bergerigi yang menjadi salah satu diatara 2 rel sisa di dunia ini.

Berbicara tentang sejarah memang tidak ada habisnya. Hal ini dikarenakan banyaknya sumber yang harus digali dan dibuktikan keabsahannya agar tidak menjadi sesuatu yang salah di masa depan. Bukti sejarah yang masih ada dan dengan mudah ditemukan contohnya adalah kereta uap. Sudah bukan hal yang baru ketika berbicara soal kereta, tentu sebagian besar akan mengarah ke museum kereta Ambarawa.

Di museum kereta Ambarawa ini letaknya ada di Jl. Stasiun No. 1, Panjang, Ambarawa, Panjang, Ambarawa. Bila kita ke Semarang maka kurang afdol rasanya kalau tidak ke museum kereta Ambarawa ini. Tidak begitu jauh dari pusat kota Semarang, karena dengan ke museum keretea Ambarawa, maka kita akan merasakan bagaimana naik sebuah kereta uap kuno dengan melewati jalur-jalur yang menyajikan keindahan alam dengan versi yang berbeda.

Baca Juga :  Apartemen Dijual di Jakarta Utara Cicilan 3 Juta Per Bulan

Salah satu versi sudah di artikel sebelumnya, dan sekarang adalah versi yang paling sering digunakan oleh wisatawan karena memang harganya lebih murah. Sayangnya, untuk menikmati versi yang satu ini, wisatawan hanya bisa menggunakan kereta diesel saja. Untuk yang kereta uap, wisatawan juga dapat menggunakannya tetap hanya khusus untuk di-charter atau disewakan langsung 1 gerbong dimana harganya sama seperti di versi sebelumnya, bisa mencapai Rp. 10.000.000 per gerbong yang mana 1 gerbong bisa menampung untuk 40 orang.

Versi ini adalah versi jurusan Ambarawa sampai Stasiun Tuntang. Kalau yang sebelumnya adalah melewati jalur menanjak nan asri dan sejuk, kini melewati jalur di tengah salah satu tempat wisata juga di Semarang, yaitu Rawa Pening. Naik kereta uap atau diesel dengan jalur di tengah Rawa Pening.

kereta uap

Kereta yang melaju di jalur Ambarawa – Tuntang. Sumber : Yosef Dian.

Jalurnya memang tidak menanjak, sehingga jalur ini dipilih untuk digunakan wisatawan dalam menikmati wisata kereta di Ambarawa karena memang jalurnya memadai penggunaan yang sering. Teman saya, Yosef Dian, seorang penggemar kereta api mengungkapkan, salah satu foto yang paling indah didapatkan adalah dari jalur sini. Komposisi yang pas antara kereta uap dan pegunungan.

kereta uap

Ketika melaju diatas Rawa Pening. Sumber : Yosef Dian.

kereta uap

Kereta dan Nelayan. Sumber : Yosef Dian.

Pengambilan gambar oleh para railfans bisa sangat beragam. Ada yang mengambil dari atas bukit, atau dari pinggir Rawa Pening tergantung kreatifitas masing-masing dalam menangkap momen yang ciamik dan komposisi yang diinginkan. Meski memang untuk mengambil kereta uap yang lewat jalur ini sangatlah jarang daripada yang di jalur Ambarawa – Bedono karena memang hanya kereta uap saja yang diperbolehkan lewat jalur tersebut.

kereta uap

Diambil dari kejauhan dan di tempat agak tinggi. Sumber : Yosef Dian.

kereta uap

Dengan gagah melintas di areal persawahan. Sumber : Yosef Dian.

Perjalannya masih terkesan biasa, karena memang kurang menantang, tetapi melintasi di tengah-tengah Rawa Pening yang luas dan nampak pegunungan yang berjejer tentu saja bisa mencuci mata dan menyegarkan pikiran sesaat.

Baca Juga :  Rumah Bekas Termurah di Jakarta Ada di Sini

Kereta yang berjalan perlahan tentu dapat dimanfaatkan untuk sekedar memotret keadaan sekitar Rawa Pening yang memang sangatah luas, dan pegunungan yang membentang dibelakangnya menambah nilai ekstetika didalam foto.

kereta uap

Ah, sangat indah. Sumber : Yosef Dian.

Sesampai di stasiun Tuntang, wisatawan diberikan waktu beberapa menit untuk sekedar ke kamar kecil atau berfoto dengan lokomotif. Dan, kereta pun akan berbalik kembali menuju stasiun Ambarawa.

 

Sumber :

  • Kompas Travel
  • Dokumentasi : Yosef Dian
  • Tulisan : 510 kata

 

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang

Leave a Reply