Ikut Si Mbah Berjalan-Jalan di Daerah Perbukitan

Menengok ke selatan kota Semarang, seonggok kendaraan besi raja darat tengah bersiap dengan kegagahannya yang dipadu kehangatan dari kayu bakar sebagai penggeraknya. Nampak sedang melakukan pemanasan sebelum berjalan menyusuri jalur yang bisa dibilang menjadi salah satu diantara 2 jalur sisa di dunia yang masih menggunakan gerigi di tengahnya.

Seorang manusia sudah berdiri disampingnya memegang peluit untuk tanda kapan kuda besi tersebut akan melaju menembus tebalnya dinding udara dan jalur menanjak di daerah gunung. Asap membumbung tinggi mengangkasa dari cerobong yang berfungsi sebagai jalur keluar sumber panas dari dalam mesin.

kereta uap
Pemanasan dulu. Sumber : Yosef Dian.

2 benda besi juga bersiap untuk ditarik dimana isinya adalah para wisatawan, baik lokal maupun internasional, yang ingin menikmati naik kereta uap dengan pemandangan bukit-bukit dengan campuran dari aktivitas warga lokal.

Peluit pun berbunyi dan sang kepala yaitu Lokomotif uap B 2503 dimana lokomotif ini berusia 114 tahun buatan Maschinenfabrik Esslingen dari Belanda yang langsung menarik dengan kuat 2 gerbong dibelakangnya. Uap yang keluar juga semakin banyak, menandakan pak tua siap untuk berjalan-jalan memutari bukit-bukit. Raut wajah wisatawan tampak sumringah karena mendapatkan kesempatan untuk menikmati sesuatu yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Naik kereta uap tua dengan latar belakang perbukitan diatas salah satu diantara 2 rel sisa yang masih menggunakan gerigi di dunia ini.

kereta uap
Kereta uap lewat dengan pemandangan gereja Katolik Santo Yusup Ambarawa. Sumber : Yosef Dian.

Perlahan sang empunya menyusuri meter demi meter rel. Pemandangan hijau nan menyejukkan menyambut dengan hangat “ular bulu” besi ini. Terpaan angin khas persawahan dan perkebunan langsung datang untuk menyapu wajah dari para wisatawan yang menyempatkan untuk melengok keluar jendela.

kereta uap
Kereta Uap dan Pemandangannya. Sumber : Yosef Dian.

Karena jalur yang dilalui adalah jalur perbukitan, tentu saja berkelok-kelok indah. Masuk ke area perkebunan, tampak beberapa orang tengah membawa kamera ingin mengabadikan sang pak tua yang sedang melenggak-lenggok indah di tengah jalur rel.

Salah satunya adalah teman saya, Yosef Dian. Dia adalah seorang railfans atau pecinta kereta api yang mengabadikannya lewat kamera serta lensanya. Berada di tengah perkebunan demi kereta uap memang menjadi kesukaannya. Menurutnya, kereta uap adalah kereta terindah yang mudah untuk diabadikan karena memang jalannya tidak secepat kereta niaga atau kereta jaman sekarang.

kereta uap
Kereta bersiap langsir atau pindah kepala di Stasiun Jambu untuk bersiap jalur menanjak. Sumber : Yosef Dian.

Semakin lama, jalur yang dilewati semakin menanjak, dan tentu saja ini membuat perlu adanya jalur khusus untuk mempermudah perjalanan kereta melewati tanjakan. Dan itu tentu saja akan melihat jalur rel bergerigi yang bersejarah. Jadi, rel bergerigi adalah rel yang ditengahnya ada jalur khusus yang berbentuk gerigi untuk membantu mendorong kereta melewati jalur menanjak.

kereta uap
Kereta proses langsir atau pindah kepala mendorong gerbong. Sumber : Yosef Dian.
kereta uap
Lokomotif mendorong 2 gerbong untuk menanjak. Sumber : Yosef Dian.

Pemandangannya pun semakin hijau dan udara semakin sejuk. Jalur rel ini melewati beberapa rumah warga dimana banyak sekali anak-anak pulang sekolah atau hanya sekedar bermain di pinggir rel untuk menunggu datangnya pak tua ini.

Sepanjang perjalanan juga banyak pemburu foto kereta uap yang selalu bersiap di pinggir atau di bukit untuk menangkap momen indah kereta uap dengan paduan keadaan sekitar yang akan membuat foto menjadi lebih hidup dan berwarna.

kereta uap
Kereta uap dan penggemarnya. Nampak juga rel yang ada geriginya di tengah. Sumber : Yosef Dian.

Setelah menembuh perjalanan sepanjang 4 kilometer, akhirnya kereta berhenti di stasiun Bedono dimana inilah stasiun terakhir untuk wisatawan dan kereta akan kembali ke stasiun Ambarawa dengan rute yang sama. Tentu menjadi sebuah pengalaman yang mengesankan ikut merasakan bagaimana perjuangan pak tua untuk terus mengeksistensi keberadaan kereta uap dan mengenalkan sejarah tentang adanya salah satu rel bergerigi yang tersisa di dunia.

Sumber Video : Channel Dhannie Setiawan.

Pasti akan bertanya-tanya, bagaimana cara naik kereta uap ini dan berapa biaya yang dibutuhkan untuk membeli tiketnya? Jadi, untuk bisa naik kereta uap ini, kita harus pergi ke museum stasiun Ambarawa, dan kalau bisa datang sejak pagi lalu mengantri. Menurut Kepala Stasiun Museum Ambarawa, untuk cara wisata kereta ini tersedia 2, yaitu secara reguler dan sewa. Jalur yang dilewati juga ada 2, yaitu Ambarawa – Tuntang dengan lewat jalur di tengah rawa, dan jalur Ambarawa – Bedono dengan jalur perbukitan atau menanjak.

Sayangnya, untuk yang jalur reguler tidak melewati jalur perbukitan seperti yang diatas. Hal ini disebabkan karena jalurnya kurang bisa digunakan berkali-kali dan dikhususkan untuk jalur sewa dimana untuk harga sewa 1 gerbong 40 orang mencapai Rp. 10.000.000,-. Lama perjalanannya sekitar 3 jam pulang pergi dengan menempuh jalur perbukitan yang indah.

 

Sumber Tulisan :
  • Yosef Dian
  • Situs Travel Kompas
  • Jumlah : 700 kata

 

 

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang

1 thought on “Ikut Si Mbah Berjalan-Jalan di Daerah Perbukitan”

Leave a Comment