Aku dan Revolusi Industri 4.0

Kali ini bahasannya agak berat yak. Ngomongin soal revolusi industri yang mana seperti kalian ketahui kalau revolusi industri ini belajarnya di Inggris. Kenapa kok di Inggris? Menurut informasi Wikipedia, periode 1750 hingga 1850 adalah masa terjadinya perubahan besar-besaran di banyak sektor industri, seperti sektor pertanian, manufaktur, transportasi, hingga teknologi.

Dimana perubahan besar tersebut nyatanya memberikan dampak kepada kondisi sosial, ekonomi dan budaya dunia dan diawali dari Britania Raya yang kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, hingga seluruh dunia. Seperti itulah sejarahnya kenapa kok dimulai dari negara Inggris sana.

Revolusi industri saat ini sudah memasuki yang keempat dimana bisa dibilang inilah revolusi masa depan. Mungkin dari kalian sudah tahu soal revolusi industri 4.0 ini entah dari omongan para capres, bualan-bualan caleg daerah, ataupun sekilas membaca artikel yang lewat saja.

Revolusi 4.0 ini bisa dibilang canggih lho guys. Ya, canggih karena memang kita masih belum terlalu umum dengan perubahannya. Seperti halnya revolusi industri 1,2, dan 3. Awalnya ya bisa dibilang canggih, tetapi sekarang akan dibilang kuno. Contohnya saat mulai revolusi industri 1.0 yang mana saat itu masih ada mesin uap. Dikatakan kalau mesin uap saat itu dapat digunakan sebagai alat penggerak yang bisa dilakukan kapanpun.

Berbeda sebelumnya yang masih menggunakan angin untuk menggerakkan sesuatu. Revolusi industri 1.0 mulai menggunakan mesin uap dimana sekarang sudah terlalu kuno sekali. Tetapi, masih ada salah satu kereta di Ambawara yang masih memanfaatkan uap sebagai tenaga penggeraknya. Uap dihasilkan dari kayu bakar ataupun batu bara. Malah sekarang digunakan sebagai kereta wisata, lho.

Kembali ke revolusi industri 4.0.

Ada apa sih di revolusi industri 4.0 ini?

Kalau aku kata ini merupakan revolusi industri yang lebih mengandalkan sistem komputasi yang terhubung. Artinya kini seluruh dunia dapat terhubung satu dengan lainnya. Indonesia bisa terhubung dengan Amerika. Brazil bisa terhubung ke Perancis. Hanya aku yang tidak bisa terhubung dengan kamu karena kamu marah. Dan, revolusi industri 4.0 ini lebih mengarah kepada otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik yang mencakup soal internet, sensor, cloud computing dan kognitif komputer.

Di masalah teknologi internet ini aku bisa apa?

Berikut beberapa contohnya :

1. Sosial Media

Perubahan besar dalam kehidupan saat ini. Mengapa? Karena seakan-akan kehidupan nyata kita berpindah ke kehidupan media sosial. Alasannya adalah kita tidak perlu capek-capek mengeluarkan tenaga untuk bersosialisasi dengan orang lain.

Sebelum adanya sosial media, gosip depan rumah tetangga, atau rapat harus berada di tempat dan juga waktu yang sama. Sekarang? Lewat sosial media kita sudah bisa melakukan itu semua, lho! Kita bisa menggosip lewat media Facebook bersama tetangga-tetangga, atau rapat sekarang ini sudah banyak dilakukan lewat Skype. Semua langsung terkoneksi asal ada yang namanya internet.

Lantas apakah ini buruk? Ya, seperti yang sudah dibicarakan oleh banyak orang kalau internet ini ibaratnya adalah pisau bermata dua. Baik ketika digunakan untuk hal yang baik, dan buruk ketikan digunakan untuk hal yang buruk. Dengan adanya media sosial ini tentu bisa digunakan sebagai silaturahmi atau mengetahui kabar sanak saudara, teman, atau orang lain hanya dengan melihat isi status mereka.

Misal kita punya keluarga di Jakarta sedang membagikan foto mereka di media sosial ketika merayakan tahun baru. Kita sebagai saudara jauh tahu kalau mereka baik-baik saja dan sehat.

Kalau digunakan sebagai hal-hal jahat, tentu saja ini sangatlah berbahaya. Seperti pencurian rumah gara-gara sang maling paham kondisi rumah sedang kosong ditinggal liburan sang pemilik. Tahunya dari pembaruan status terbaru pemilik rumah yang memperlihatkan foto sedang berlibur.

2. Belajar

Semua sekarang mulai beralih menuju ke sistem online. Hampir semua kebutuhan sudah bisa kita dapatkan lewat online. Begitu juga dengan belajar. Salah satu startup Indonesia sudah menciptakan konsep seperti sekolah, ada gurunya tapi lewat online. Bahkan, ada juga kelas-kelas yang bisa kita ikuti sesuai dengan keinginan kita.

Selain itu, ketika aku sedang skripsi, literatur harus berasal dari paper atau penelitian yang terpercaya. Bukan dari blog atau website abal-abal. Dapatnya juga lewat internet. Semua paper atau penelitian baik dalam negeri maupun dari luar negeri dengan mudah kita bisa dapatkan dan pelajari sehingga aku bisa lulus sarjana. . . .meski telat.

3. Menonton Film atau Video

YouTube lebih dari TV yoooo

Tidak asing kan dengan ungkapan itu? Yap, dan itu sangat benar sekali. Kebutuhan menonton film atau video saat ini lebih ramai lewat media YouTube. Anak balita umur 4 tahun saja (seperti ponakanku) sudah bisa mengoperasikan ponsel dan menonton video anak-anak lewat YouTube. Inilah salah satu fenomena kalau kita sedang berada di revolusi industri 4.0. *Ashiaappppp*

Jujur dari hati yang terdalam, aku juga merasakan kalau menonton berita, hiburan, film, atau lainnya, YouTube menjadi alat utamanya. Mulai meninggalkan televisi karena memang televisi sendiri tidak bisa kita kontrol sepenuhnya. Tidak bisa diputar ulang, dan juga tidak bisa menyiarkan konten yang banyak. Beda dengan YouTube. Ada yang sudah jarang nonton televisi?

4. Belanja

Menyimpan uang di bank sekarang ini tidaklah aman. Uangku cepat habis kalau disimpan di bank. . . .gara-gara sering belanja online. Tidak tahu kenapa bagiku berbelanja online ini bikin ketagihan. Padahal barang atau jasa yang dibeli ini belum tentu sesuai dengan kebutuhanku.

 

Parahnya lagi, ketika hanya “cuci mata” di toko-toko online di Indonesia dan menemukan sebuah barang, aku langsung berubah menjadi Roy Kiyoshi, “hmm, kayaknya benda ini bakal cocok kalau digunakan untuk ini” atau “hmm sepertinya aku butuh ini, siapa tahu nanti akan ada sesuatu yang berhubungan dengan barang tersebut“. Ajaib, kan!

5. Pencitraan

Siapa disini yang memblokir akun anggota keluarganya di media sosial?? Ngaku !!

“Aku mas !!”

Benar, semua ini karena pencitraan. Tentu saja kita tidak ingin apa yang kita tampakkan di media sosial atau internet akan terkespos oleh anggota keluarga kita. Misal, kita dirumah itu selalu pendiam tidak banyak tingkah, tetapi foto-foto di Instagram isinya foya-foya, hura-hura, ataupun penuh ekspresi. Meskipun ada alasan lain selain pencitraan untuk memblokir akun media sosial keluarga untuk media sosial kita.

Itulah kenapa internet dinamakan pisau bermata dua. Di sisi lain, internet juga bisa menjadi sebuah awalan dari kehidupan baru. Contohnya adalah yang ojek online. Siapa sangka kalau ternyata ojek online ini bisa merubah kehidupan seseorang menjadi lebih fleksibel. Semua tinggal klik-klik-klik, beres. Mau cari tumpangan? Tinggal klik. Cari makan tanpa antri? Bisa.

Sebagai tukang ojeknya pun sekarang juga memiliki kehidupan yang berbeda. Dahulu masih nongkrong di pangkalan sambil teriak “yang ojek yang ojek“. Sekarang tinggal pantengin ponsel masing-masing untuk menunggu pesanan selanjutnya.

Begitu juga masalah bisnis lainnya. Dengan internet, pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan dapat terhubung satu cabang dengan cabang lainnya tanpa harus pergi ke cabang tersebut yang mana ini tentu saja bisa menghabiskan banyak biaya dan waktu.

Mau semua pergerakan kalian diikuti oleh sensor?

Ini terjadi di negara maju seperti China atau Tiongkok. Disana ada teknologi CCTV yang menggunakan sensor untuk memantau semua pergerakan warga kotanya. Jadi, ketika kita pergi di tempat umum seperti stasiun, disitu kita akan masuk sensor CCTV dan akan terbaca seluruh identitas di layar sang pemilik kekuasaan.

Untungnya apa? Untungnya ya meminimalisir terjadinya tindak kejahatan seperti pencurian atau pembunuhan. Ketika sang pelaku masuk sensor CCTV maka bisa langsung ditangkap dengan bukti yang kuat. Sensor CCTV ini juga bisa berpindah secara cepat karen seluruh CCTV ini sudah terintegrasi. Ibaratnya ya sudah tidak ada jalan keluar lagi.

Cara kerjanya seperti video ini :

Inilah yang disebut dengan teknologi Face Recognition.

Tidak semua tempat dipasang sensor CCTV ini karena masih menyangkut ke masalah hak privasi. Hanya di tempat-tempat umum seperti jalan raya, stasiun, bandara, dan toko-toko di sekitar jalan besar. Kalau di Indonesia mungkin menurutku bisa digunakan untuk mengetahui gebetan kita mantannya siapa saja. Waduhh. .

3. Bingung menyimpan data yang banyak isinya?

Saat ini teknologi penyimpanan masih dipegang oleh Google dengan nama Google Cloudnya. Google Cloud ini merupakan salah satu bentukan dari yang namanya teknologi cloud computing. Seperti yang kita ketahui, Google saat ini membuka cabang di seluruh dunia untuk lebih mudah menjangkau para penggunanya. Tentu saja Google tidak mau dipermasalahkan bagaimana soal pindah-memindah, penggunaan data dari seluruh dunia atau seluruh cabang.

Terbentuknya Google Cloud dimana seluruh cabang Google dapat menggunakannya sebagai media penyimpanan yang sangat besar untuk berbagi file foto, video, ataupun lainnya tanpa harus mengunjungi dari cabang satu ke cabang lain untuk mendapatkan data-data tersebut. Inilah yang disebut cloud computing. Media penyimpanannya berada diatas awan dan menaungi seluruh dunia. Semua bisa ambil, edit, ataupun menghapusnya sesuai kapabilitas masing-masing pengguna.

Cloud computing ini juga sudah bisa dikategorikan sebagai hosting terbaik. Tetapi, namanya bukan cloud computing lagi, melainkan berubah menjadi cloud hosting. Cloud hosting ini bisa dibilang seperti layanan VPS. Kalau yang sudah terjun ke dunia perwebsite-an tentu tak asing dengan hosting, VPS, dan dedicated. Fungsi lainnya adalah cloud hosting adalah bisa menampung lebih banyak traffic yang masuk ke website kita tetapi pengaturannya mudah seperti shared hosting.

Dapat hosting dengan performa lebih baik tetapi pengaturannya mudah seperti hosting biasa? Wah, ya mauuu. . .

Kalau mau, kalian bisa coba layanan dari Niagahoster yang sudah menerapkan teknologi cloud dalam layanan hostingnya. Layanan ini didukung WordPress Accelerator, LiteSpeed, dan gratis domain. Tanya harganya berapa? Nih, lebih jelasnya :

4. Mau pilih kekuatan robot atau manusia?

Sudah pada tahu kan kalau Jepang saat ini sudah mengembangkan teknologi robot untuk menggantikan peran manusia di masa yang akan datang? Atau, sudah pernah lihat buruh pabrik dari mobil merek terkenal seperti mobil pabrikan Jerman?

Semua serba menggunakan robot. . . . .Kenapa?

Efisiensi. Efisiensi waktu, tenaga, dan biaya. Robot terbuat dari rancangan-rancangan rumit yang bisa bekerja hingga 24 jam penuh. Manusia bisa bekerja 24 jam penuh? Bisa kok, tapi akan dinyinyirin orang lain “itu kerja atau dikerjain?“. . . . . Ya nggak?

Robot investasinya memang mahal tetapi dengan didukung komputasi yang pas dan tepat, hasil pekerjaannya bisa melebihi manusia. Melebihi dalam arti selalu tepat dan tidak salah. Manusia kan tempatnya salah.

Robot ini menggunakan teknologi yang namanya Artificial intelligence (AI). Menurut Wikipedia, AI merupakan kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah. Salah satu contohnya adalah robot tadi. Adapun robot yang bisa memainkan catur. Tahun 2016, tepatnya tanggal 9 Maret 2016, sejarah mencatat kalau pertama kalinya komputer menang melawan manusia di game catur Go atau catur Jepang yang dikenal dengan AlphaGo.

Inilah yang ditakutkan oleh manusia kedepannya karena dikabarkan AlphaGo ini bisa belajar dari dirinya sendiri dan membuatnya bisa lebih pintar dari sebelumnya lewat kemampuan analisanya mengamati setiap pergerakan yang dilakukan oleh lawan-lawannya. Nih videonya kalau tidak percaya :

Itulah macam-macam teknologi yang ada di resolusi industri 4.0 ini. Tantangannya adalah masih belum meratanya koneksi internet di dunia, bahkan di Indonesia saja masuk rumah sudah tidak bisa diakses. Masih terbatas pekerjaan-pekerjaan tertentu yang masih dikerjakan oleh robot. Dan juga masalah keamanan yang mana dengan adanya internet ini justru semakin rawan untuk dimasuki.

Meskipun begitu, sebagai manusia tentu kodratnya adalah terus belajar. Kalau tidak terus belajar kita akan mati tertindas oleh perubahan. Seperti halnya yang dilakukan oleh Deddy Corbuzier ataupun Pak Ndul. Di usia yang tidak lagi muda, beliau-beliau ini masih terus mengikuti perkembangan industri agar bisa terus hidup.

Kalau aku sendiri lebih meningkatkan kemampuan di bidang digital marketing khususnya Search Engine Marketing (SEM), Search Engine Optimization (SEO), dan Copywriting. Kenapa kok lebih fokus kearah situ?

Saat ini perkembangan dunia marketing lebih banyak dilihat. Namun, belum banyak yang paham soal digital marketing, lebih-lebih digunakan untuk meningkatkan profit perusahaan. Karena, semakin kesini, banyak perusahaan mulai sadar kalau cara tradisional yang mereka lakukan belum memberikan profit yang dirasa cukup untuk perusahaan. Salah satunya adalah hotel.

Bekerja di salah satu startup media di Surabaya yang membahas soal hotel, aku mulai perlahan mengerti bagaimana kehidupan hotel-hotel di Indonesia saat ini, khususnya bagaimana perubahan yang dilakukan semenjak adanya Online Travel Agency (OTA) seperti burung biru. Menguntungkan atau malah merugikan?

Jawabannya adalah bahwa kehadiran OTA ini tidak banyak pengaruh kepada profit hotel. Yang ada tidak sedikit hotel malah merugi karena kehadiran OTA. Mungkin sudah banyak pendapat mengatakan kalau harga yang ditawarkan OTA itu lebih murah dari kalau kita langsung pemesanan di hotel. Benar?

Nyatanya, ini yang bikin aku kaget. Justru kalau kalian menggunakan sistem direct booking atau memesan kamar secara langsung, kalian akan mendapatkan harga yang sedikit lebih murah dibandingkan kalau kalian memesan lewat OTA. Kaget nggak?

Tidak percaya? Coba deh cek. . .

Bahkan, kalau kalian perhatikan nih, harga pemesanan kamar beserta makan pagi atau breakfast pun, harga di situs resmi hotel lebih murah dibanding OTA. Tapi, kenapa masih banyak yang memesan lewat OTA?

Jawabannya adalah mudah dan aman.

Hubungannya dengan aku mempelajari SEM, SEO, dan Copywriting apa?

Kedepannya, pemasaran yang digunakan oleh banyak pelaku bisnis adalah pemasaran digital. Kembali lagi contohnya adalah hotel. Di sisi lain, banyak curhatan-curhatan dari para marketing communicationnya soal bagaimana sih cara meningkatkan profit hotel?

Dari sinilah peran SEO, SEM, dan Copywriting itu. Ketiga unsur ini bekerja sama dalam melakukan pemasaran. SEM bertugas memasarkan menggunakan paid advertising seperti Google Ads, Facebook Ads, ataupun Instagram Ads. Tentu saja ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Lalu, bagaimana biar biaya tidak membengkak?

Mulailah ilmu Copywriting ini bekerja. Perlu tahu bagaimana mengajak orang untuk tertarik melalui rangkaian kata. Alasannya adalah SEM akan lebih murah biayanya apabila konten atau iklan yang dibuat ini viral atau banyak responnya. Caranya dengan menggunakan copywriting yang dapat mengajak orang untuk berpikiran “oh ini yang aku cari“, “wah menarik juga, klik ah“, dan akhirnya biaya iklan akan lebih murah.

Bagaimana dengan SEO?

SEO juga mengandalkan copywriting yang bagus juga, namun bukan utama. Utamanya adalah mencari kata kunci yang pas. Pas ini banyak dicari tetapi tidak banyak kompetitor. Inilah sulitnya SEO. Hasil akhir yang ingin dicapai adalah traffic website lebih ramai. Selain mencari kata kunci, SEO juga tidak bisa instan layaknya SEM karena memang mengandalkan algoritma Google untuk memberikan peringkat kepada situs kita nanti.

Dengan menguasai ketiga ilmu tersebut, dan dipraktekkan ternyata hasilnya positif, barulah tugas sales untuk mengajak calon tamu untuk melakukan direct booking tanpa melalui OTA karena calon tamu merasa “wah cara booking kamar langsung di hotel ternyata lebih murah dan mudah“, “ternyata aman juga meski tidak lewat OTA ya“. Dari mana mereka tahu sehingga bisa berpikiran kearah situ? Ya, dari ilmu SEM, SEO, dan Copywriting itu.

Siapa sih yang disini kalau cari sesuatu tidak lewat Google? Atau siapa sih yang disini tidak bermain sosial media?

Inilah pentingnya aku harus mempelajari SEM, SEO, dan Copywriting. Mungkin tidak hanya kasus hotel saja. Perusahaan-perusahaan besar aku lihat sudah mulai merambah ke bidang digital marketing untuk memasarkan produk mereka. Selain karena lebih murah, jangkauan pemasarannya juga lebih luas, lebih cepat, dan lebih akurat. Tidak seperti pemasaran tradisional yang lebih mahal, namun belum tentu bisa menggaet calon kustomer.

Memang, aku masih dalam proses memahami ketiga ilmu ini dengan harapan dapat meningkatkan tren yang diinginkan perusahaan dan mencari pola belajar yang tepat. Biaya untuk workshopnya juga tidaklah murah. Bisa berjuta-juta, tapi tidak masalah asal ilmu yang diberikan adalah “daging”. Sebenarnya bisa belajar sendiri kok, hanya saja aku merasa kurang kalau belajar sendiri. Butuh arahan juga agar tidak terlalu salah arah.

Jadi, sudah siapkan kalian menghadapi revolusi industri 4.0?

Sumber Gambar : Shutterstock, Dokumen Pribadi
Sumber Tulisan : Wikipedia, Opini Pribadi, Situs Niagahoster

1 thought on “Aku dan Revolusi Industri 4.0”

Leave a Comment